2 Maret 2010


Ankahtuka wa zawwajtuka bi binti Nunung Hasanah bi mahri nuqud alf rubiyah naqdan

Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bi al-mahr al-madzkur naqdan

Opss, sorry…. sebetulnya tidak menggunakan bahasa arab. Aslinya menggunakan bahasa sunda, tapi untuk entri ini dialihkan pakai bahasa Indonesia. Kurang lebih seperti ini kalimatnya:

“Saya nikahkan putri saya yang bernama
Nunung Hasanah dengan maskawin uang tunai sebesar Sepuluh…… (!@#$%^&*)

Wait
! Para saksi lumayan penasaran mendengar kata “sepuluh”, terlebih intonasi wali nikah yang melafalkannya sekata-sekata. Mungkin lanjutan kata yang terlintas dalam benak para saksi adalah “juta rupiah” atau “miliar rupiah” mungkin, namun yang diucapkan oleh wali adalah “ribu rupiah”

”…. dibayar tunai”

“Saya terima nikahnya dengan maskawin sebagaimana tersebut tunai”

#####
(Flash back 2 hours before wedding ceremony)

“Kok pulang, bagaimana dengan sekolah dan pondok?"

“Sengaja absen sekolah tanpa keterangan. Adapun Pondok, damai saja, tanpa birokrasi.”

“Masuk kamar, dek! Temani teteh!”

Mahar seperti apa yang diajukan dan bagaimana persiapan calon mempelai pria?” tanya sang adik.

“Cukup bacaan surat Al-Ikhlas dan beliau menerima” jawab sang kakak; calon mempelai wanita.

Dikira hanya kalangan santri tradisional saja yang memformalitaskan mahar.

“Lalu bagaimana mengenai bacaannya, apakah makharij, sifat dan ahkam hurufnya tidak diragukan?”

“Ini yang masih ngambang. Sebaiknya kamu pastikan, gunakan pengetahuan Pondokmu!”

“Insya Allah. Kalau boleh bersaran, mungkin bisa ditambahkan seperangkat alat solat, supaya ada benda yang bisa dilihat orang-orang pesaksi?”

“Benda-benda itu terlalu berat. Orang terlalu biasa mempublikasikan lambang-lambang transendental itu, tak terkecuali preman terminal, seakan menjadi jurus untuk menjaga image. Teteh ingin menggebrak pemahaman orang-orang tentang gengsi mahar

Belum habis satu jam perbincangan itu, tiba rombongan pantura, mempelai pria.

“Pintu dikunci, kita berunding 3 kepala!” seru calon mempelai wanita.

Dengan berbekal dasar pengetahuan tajwid di Pondok, dan atas kepercayaan calon mempelai wanita, sang adik menyimak murottal Al-Ikhlas yang akan dijadikan mahar.

“Maaf, sebaiknya ganti saja dengan bentuk materi, uang tunai misalnya! Saya rasa itu lebih baik”

“Ya sudah, berapa yang dimau, Insya Allah dipenuhi?” tegas calon mempelai pria.

“Lima ribu rupiah saja. Mohon dihormati!” tukas calon mempelai wanita memelas.

“Nah, itu kongkrit” salut sang adik.

“Sebentar! Ini terlalu minim. Saya gengsi” sahut calon mempelai pria juragan tambak ikan.

“Itu harapan mati, lagian mahar hanya syarat, jika tidak mau dikatakan formalitas. Saya hanya ingin menjadi sebaik-baik wanita**. Bukankah seperti itu, dik?”

“Ya, tepat. Dan sebaik-baik calon pengantin pria memberikan mahar semaksimal yang disanggupi.”

“Kalau itu memang idealisme prinsipil, bolehkah saya menggenapkan menjadi sepuluh ribu?

“Oke, itu masih terhitung minim. Final!”

Pukul 07.00, rombongan bertolak menuju Masjid komplek, dan resepsi dimulai.

#####
3 year letter
Pondok Pesantren eL-Noure
Baroush, Subang


Siang itu matahari cerah, tapi tak secerah hati sang adik. Hiburan gelantung tupai mendadak hambar. Ciprat pancuran kollah tak lagi riang. Gemercik dayu air irigasi semakin redup. Langit hati terasa mendung, gundah gulana. Orkestra alam seolah tak pernah manggung. Jiwanya layu.

“Gak boleh pulang, baru 4 minggu!” bijak Akang.

Suara hati tak henti memaksa, “Pulang! Pulang! Pulang!” Sore itu, satu tas tenteng sudah disembunyikan di kebun pisang dekat jalan ojek. Pagi buta siap kabur, tentu bukan untuk selamanya, melainkan untuk memenuhi panggilan batin.

Subuh sudah tiba. Para santri sedang asyik menyetori hapalan. Ancang-ancang kaki siap mengayun. Gerangan? Ada ojek di pagi buta membawa satu orang muatan yang menggigil kedinginan mengampiri Pondok, aneh. Hujan embun menutupi wajah mereka. Rupanya kakak ke-3 datang. Tumben, berkunjung ke Pondok. Selama sejarah hidup empat tahun di Pondok, baru kali ini ada anggota keluarga berkunjung.

“Pulang dek, Tetehmu ingin disolati kamu!” dengan raut muka ganjil.

Seru telepati itu nyata. Langit hati mendung tiba-tiba. Sungai mungil mengalir di atas pipi.

Setelah kakak ke-3 menjelaskan maksud kedatangannya pada guru di ruang tamu, kami pamitan dan langsung bertolak. Planing kabur berubah menjadi pulang yang diridhoi.

“Berhenti dulu disini Bang Ojek!”

“Ada apa?”

“Ada tas tenteng di kebun pisang”

“Ya sudah, cepat ambil! Kakak belum biasa diserang embun”

Ojek mengebut menuju jalan raya, sementara kakak ke-3 menggigil bergelatuk.

#####
(4 bulan sebelumnya)

“Menurutmu, nama putra yang bagus apa?”

“Bukannya teteh sudah mempersiapkan nama-nama bagus jauh-jauh hari?”

“Ya. Untuk nama panjangnya sudah ada beberapa pasang, tinggal nama depan yang belum punya. Kamu, ada usul?”

“Kalau hanya untuk nama pasaran itu jelas banyak. Adapun selainnya, nanti saya carikan yang sedikit jarang di pasaran, insya Allah. Lagian masih ada waktu 4 bulan”

“Kalau nama belakangnya Sabil Firdaus bagaimana? Itu paling tendensif”

“Bagus”

#####
(RSUD Ciereng Subang)

“Ea…. Ea…. Ea…..”

Suara bayi mungil itu histeris. Nafasnya dibantu tabung. Siang malam ditunggui paman-pamannya. Setelah seminggu, si mungil bisa diambil. Sesampai di rumah, bayi itu diberi nama Alif Sabil Firdaus. Alif berarti huruf pertama alfabet hijaiyah. Putra pertama sekaligus cucu pertama. Alif juga berpilosofi tegak, teguh, konsiten dan berani. Sabil bermakna jalan. Firdaus berarti surga tertinggi. Jadi, Alif Sabil Firdaus dimaksudkan: putra tangguh yang membawa jalan menuju surga, atau dengan kata lain adalah: seorang da’i. Bisa juga bermakna: putra yang mengantarkan ibu kandungnya ke surga. Ya, benar. Sang ibu yang meninggal “syahid” akibat melahirkan dengan cara cesar.

_____________
*
Dedicated to My Sister, Ummu Alif

**
عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :
"إن أعظم النكاح بركة أيسره مؤنة"

Diriwayatkan dari `Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw bersabda: sesungguhnya perkawinan yang besar keberkahannya adalah yang paling murah maharnya.”



Label:

posted by Kepinding @09.08 // 0 souls being nibbled


Home Page



WELCOME
to
BiLik Kepinding
_About_
  • Blog
  • Me
  • My Name
  • Sotoy Mode On
  • Ada Apa Dengan Sareupna
  • Dialektika Luqman
  • Hujan Dalam Al-Qur'an
  • Ketika Sastra Berpolitik
  • Korelasi Politik & Tasawuf
  • Positif Thinking
  • Memaknai Kata "Rokok"
  • Rupa Allah
  • Silaturahmi, Menyoal Etimologi
  • Sanggar Sastra
  • Tahun Kesedihan
  • Tentang Hari
  • Tentang Setan
  • Acak adut
  • Bangkit Itu...
  • Buta Politik
  • Gayus Tambunan
  • KTP Tanpa Kolom Agama
  • Malaikat Yang Gelisah
  • Manisnya Negeriku
  • Menciptakan Teroris
  • Model Manusia Ala Syafi'i
  • Mother Nature
  • Teko
  • Pemulung Sampah
  • Sesal Mahatma Gandhi
  • Pernyataan Sikap MUI Terkait Pemblokiran Situs Islam Online
  • Sahal Mahfudz
  • Terima kasih Malaysia
  • Qana'ah Aku
  • Angin Goeroen
  • Abu Nawas di DPD
  • Asparagus Vs Molokhia
  • Curi-curi Pandang
  • Domba = Embek
  • Feminin But Maskulin
  • Gembel Loba Bacot
  • Keroncongan
  • Maafkan Aku Tuhan!
  • Ninja Egypt
  • Paranormal St. Farouk
  • Perang Nyok !!
  • Reboisasi Tai Kebo
  • Sate Hijriyah
  • Tadabburrr
  • Ya Ahma... 3x
  • Ngigau DotKom
  • Aku Naluri
  • Aribieku
  • Berhentilah, Pak Tua
  • Berkasih
  • Bertarung
  • Biarkan Aku
  • Caliphate Itu
  • Globe Esok
  • Goblok Anakmu, Ibu
  • Intifadhah
  • Jas Apa?
  • Kelas Tambahan
  • Kudeta atau
  • Lelap
  • Madrasah Masa Depan
  • Malam Qadar
  • Mayday
  • Mendebur
  • Emansipasi
  • Menggeledah
  • Menghidu
  • Merasai
  • Monolog Sepi
  • Mumpung
  • Nomadic Chronicle
  • Pak Kumis
  • Paul et Verginie
  • Ramlah
  • Rongsok Senja
  • Sang Najmah
  • Sapu Lidi
  • Setak-setik
  • Terjegal
  • Terseret
  • The Stool Pigeon
  • Titip Peluk
  • Trotoar
  • Gemuruh
  • Aahh... 2020/1442
  • Bercakap Bersama Rabi'ah
  • Celoteh Demokrasi
  • Dialog Diri
  • Gigit Koruptor !!
  • Jalan Raya Kehidupan
  • Layar Listrik
  • Memaknai Rakyat
  • Menciptakan Teroris
  • Menikmati Demokrasi
  • Mrs. Suzanne
  • Prinsip Hidup
  • Polarisasi Media
  • Racau Terminal
  • Seragam SD
  • Surat untuk Pak Alwi
  • Teruntuk Adik
  • _Memoar_
  • Nurdin Bucek
  • Three Musketeers
  • Tragedi Jalan DAM
  • Ummu Alif
  • Galeri Koleksi
  • Dimana Pun Berada, Aku Akan Shalat
  • Inikah Kode Etik Perang Itu?
  • Kamar Bujang Goeroen
  • Perestroika
  • Tank Revolusi 25 Januari
  • Apa Kata Mereka Tentang Saya?
  • Kata Syahrul Fakhri
  • Kata Ramadhan El-Syirbuny