7 September 2011

masih lekat
saat aku dirundung pilihan
kemana, dimana, dan bagaimana
ari yg lugu, lucu, dan malu-malu
malam itu dia menemaniku
mengemas baju mengepak buku
bersama Habibi, yang hobi berkaos Totti

seratus purnama telah berlalu
Ari mabuk zat kimia
Bibi menjelma sketsa
Aku malah memancing di Sungai Nil.

dan masih waktu malam
seperti malam-malam dulu
Ari dan Bibi menghampiriku
disini, di keharuanku

Label: ,

posted by Kepinding @00.49 // 0 souls being nibbled

26 Juli 2011




Waktu itu kami pulang sekolah lewat jalan setapak yang diapit dua sungai besar dan sedang. Sungai besar berada di bawah curam jurang, yang satunya lagi sungai kecil yang bisa disentuh permukaannya karena begitu menempel dengan pinggir jalan setapak. Jalan itu kita namai dengan jalan DAM karena kata "DAM" tertulis pada tugu samping bendungan memasuki kawasan sawah. Jadi, jika kami pulang sekolah, teman-teman, khususnya si Enang dan si Willy suka menawarkan pilihan diantara apakah aku akan pulang via trotoar jalan raya sendirian atau lewat DAM rame-rame. Konon jalan DAM adalah jalan pintas bagi konco-koncoku yang tinggal di komplek Babakan Bandung. Mereka akan sedikit memotong jarak, mengurangi langkah, dan menghemat energi, ketimbang pulang lewat trotoar jalan raya Otto Iskandar Dinata yang lebih memihak dekat dengan rumahku.

Kebetulan pada siang itu, aku yang sedang mengenyam bangku kelas 6 memilih ajakan pulang melalui DAM demi membangun egalitas sesama teman. Tak ada rasa takut diantara kami berjalan diatas jurang yang dibawahnya sungai deras dan sedikit dibuaskan dengan ancaman hewan-hewan berbisa semisal ular. Aku tak ingat tanggal berapa waktu itu, tapi aku masih ingat kala itu adalah hari jum'at karena kami memakai seragam pramuka. Aku yang sedang bergurau dengan sahabat kelas tak menengok ke depan. Tubuhku mengarah ke arah mereka yang berjalan di belakangku dengan tanpa memperhatikan jalanan depan, tiba-tiba saja sayup kudengar kalimat inteljektif "awas, dek!" begitu jelas dan dekat. Seketika aku menoleh ke depan kudapati seorang Wekker alias petugas resmi penjaga irigasi daerah (sunda: Ulu-ulu) menaiki sepeda kumbangnya. Aku bertubrukan dengan Wekker itu. Aba-aba inteljektif tampaknya sia-sia untuk kuperhatikan karena jarak kami begitu dekat, lalu.....

GRUSUK.... Wekker dan sepeda kumbang yang dinaiki terjerembab ke jurang. Aku panik, spontan aku cemas plus takut, karena opini yang kami tahu tentang Wekker adalah sosok garang, sadis, selalunya menggondol golok di pinggang. Entah emang begitu faktanya, atau entah karena aku terjebak dalam prasangka buruk yang ujung-ujungnya akan menjadi sugesti sebagaimana dalam hadits qudsi "ana inda zhanni abdi bi..."

JEBBURRRR.... "Tunggu, kau!" begitu teriak geram sang wekker sambil mengacungkan telunjuk ancaman serius setelah ia dan spedanya tercebur. Spontan bulu kudukku merinding, aku terperanjat, berlari terbirit, dan berteriak: "Maaaaaaaaaaaaaakkk..."

Wajar kala itu aku memanggil "Mak" karena beliaulah sosok tempat mengadu keluguan masa lalu. Yang lucunya adalah aku mengompol di tengah jalan ketika aku kencang berlari. Sesampai di rumah, jantungku memompa keringat. Dengan gemetaran kuperosotkan celana, kucuci dengan sabun secepatnya, mengingat celana pramukaku hanya itu satu-satunya untuk esok hari sabtu. Aku gak mau bolos sekolah hanya karena gara-gara tragedi jalan DAM. Esok harinya aku berangkat sekolah. Sesampai di kelas, aku diolok-olok oleh si Willy dan si Enang di depan teman-teman sekelas. Mulai hari itu aku trauma dan tak mau pulang lewat DAM. Aku akan pulang sendirian lagi via trotoar jalan raya. Tapi minggu depannya aku berani lagi pulang bareng teman-teman lewat DAM, karena aku terlalu kesepian jika pulang dari sekolah sendirian terus. Kupikir, mustahil akan bertemu Wekker itu, dan walaupun berjumpa, aku yakin Wekker itu tak akan mengenaliku, seperti halnya aku yang tak hafal garis wajahnya.

Haha... mungkin bagimu memoar ini biasa-biasa saja terlebih bernilai, tapi bagiku ini amat berkesan dan kadang aku tertawa sendirian sambil menggeleng kepala. Sungguh, dulu yang begitu lugu, masa lalu yang amat lucu.

Label:

posted by Kepinding @04.15 // 0 souls being nibbled

22 September 2010




Jembatan perbatasan, Lio-Babakan Bandung. Masih terekam racau bendungan itu, dekat rumah potong ayam yang baunya mendengus hidung. Disana, aku tak melewatkan hari-hari tanpa langkah dengan kepal pena dan gondol buku. Tujuanku adalah sebuah rumah selepas jembatan itu. Rumah sederhana dihuni 3 orang; ibu, bapak dan seorang putra bungsu, berteras dengan sekotak pekarangan. Disana di teras rumah itu, tiga bocah bangku kelas 6 putih-merah menggariskan kata bermain angka-angka. Mereka yang tiga adalah si putra bungsu rumah itu; Willy Febriansyah namanya, Enang Sumarna; tetangga sampingnya, dan aku sendiri; orang Lio seberang jembatan.


Memotong diksi "Hak dan Kewajiban Warga Negara" sub-judul mata pelajaran PPKN. dulu namanya PMP, Pendidikan Moral Pancasila. Ini yang masih singgah di ruang memori. Sampai sekarang aku greget dengan point “Hak mendapatkan jaminan keadilan sosial” dan “Kewajiban mentaati hukum dan pemerintahan”. Satu lagi pelajaran IPS, ini tak kalah menarik. Berselancar diatas peta-peta, melirik antropologi, berurusan dengan finansial dan membahas negara-negara. Dua pelajaran ini yang membuatku kelak memilih jurusan Pengetahuan Sosial di bangku putih-abu. Yang unik dari aktivitas ini adalah selingannya, minum jamu. Ya, aku masih ingat. Jika penat tiba, kami membawa botol kosong ke sebuah pabrik untuk diisi dengan jamu, lalu diminum sambil terbahak kepahitan.


Waktu, menyeret. Puluhan purnama berlalu. Setiap diri menuju arahan jiwa. Kondisi keluarga sedikit banyak menggurui. Pencar. Selatan ke utara, barat ke timur. Kedewasaan memeras hasrat. Realitas merangkai andil. Tiga sekawan memilih garis masing-masing. Aku mengasingkan diri, dari pondok satu ke pondok yang lain. Menyepi dari pantauan atap rumah tetangga, menghilang di setiap tikungan gang. Bau rumah potong ayam dan debur jembatan perbatasan tak lagi kuhirup-dengar. Dan gelak dua orang sahabat lenyap begitu saja.


Siang terik. Pembakaran karbon monoksida menyergap hidung, di Terminal Subang. Aku mencurigai seorang penumpang di satu mobil angkutan. Ikal rambutnya kukenali. Ahaa... ternyata dia Willy. Girang bukan kepalang. Serasa menemukan oase di kesesatan tandus gurun Sahara. Satu sahabat lama kutemui. Kutumpahkan kegelisahan seadanya. Hanya saja, jarak Subang-Bandung terlalu singkat. Luapan cerita berhenti, buncahan kata seumpama kapur barus, menyublim sesampai di Terminal Ledeng. Disana aku melanjutkan langkahku sendiri. Berpisah. Willy yang kini kuketahui ngampus di Hukum UNLA menyisakan nomor telepon rumah kakaknya; tempat ia tinggal di Bandung. Bodohnya, nomor kontak itu hilang entah kemana. Untung saja hampir seminggu sekali acak hari aku langganan menjenguk adikku yang tinggal di Pesantren Ulul Albab dekat kampus UNLA. Berharap setiap bosehan sepedaku menemukan Willy. Frase populer kuis familiy 100 “Anda belum beruntung” digondolku setiap aku melewati kampus UNLA. “Sudahlah, semoga esok masih ada hari”. Padahal inginku panceg. Ironis saja aku dan Willy ngampus di Bandung tapi tak pernah merajut sejatinya seorang sahabat, saling menjenguk dan berbagi.


Ohh..., iya. Tadi Willy, sekarang Enang. Aku bertemu sahabat ber-IQ tinggi ini terakhir kali di sebuah angkot pas pulang dari Pujasera. Baru sekali ini saja. Pertemuan ini teramat langka dibanding perjumpaanku dengan Willy. Karena Willy kerap kusaksikan ia nongkrong di depan jalan SMU PGRI 2 yang dekat dengan sekolahku; menyaksikan tanpa "say salam". Sedangkan Enang sekolah di SMU Negeri 3, beda komplek. Waktu itu Enang berseragam putih-abu. Disana aku hanya ngobrol-ngobrol sesingkat mungkin. Semenjak momen itu, mataku tak pernah menangkapnya lagi. Kuucapkan jurusku, “Sudahlah, semoga esok masih ada hari”.


Barusan aku sedikit berkisah tentang nostalgia lampau sang Three Musketeers; Aku, Enang dan Willy. Sekarang aku ingin berhikayat tentang guru pembimbing kelompok belajar kami. Ialah Bapak Osmalik; bapak kandung Willy. Beliau cukup sabar menghabiskan waktu, membantu mengusir jengah tuntutan pendidikan, terjun dalam raba-raba keluguan kami. Setiap hari kami bertiga diarahkan, mengingat tahun itu adalah tahun terakhir penghabisan masa dasar pendidikan formal. SD. Aku tak banyak mengenal sosok beliau, background pendidikan dan civital masa muda. Jelasnya, pada pemilu tahun 1999, beliau sering terlihat memimpin kampanye Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia (SUNI) di kampung sebelah. Aku hanya bisa menyimpulkan saat itu, beliau adalah politikus. Kembali pada kiprah beliau sebagai tutor belajar kami. Ibarat gajah dengan belalainya, laksana harimau dengan belangnya, beliau adalah salahsatu sosok orang yang menorehkan jasa dalam hidupku.


Sering aku mengintip beliau dari belakang. Karena aku malu-malu bertatap dengan beliau, malu karena aku segan. Kusempatkan hari untuk berkunjung ke seberang jembatan jika aku liburan dari Pondok –pasca pemilu ’99-. Terlihat Bapak Osmalik beserta Ibunya Willy sedang menunggu Warung Jajan sekaligus WARTEL. Rasa ini sedikit aneh. Ada pilu menghampiri. Seolah mereka orang tua sendiri. Akhirnya kulontarkan sapa: “Bapak, Ibu, sehat?, Willynya ada?”. Bukan hanya orang tua Willy, Bapaknya Enang juga sekali-kali nampak, kutanyai: “Enang ada, Pak?”. “Main aja ke rumah!”, ini jawaban mereka. Tapi gobloknya aku, kelu menyimpan singgah di rumah sahabat-sahabat kecilku itu. Gusti.


Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. Today is a gift. Hmmm…. Sampai disini larik-larik singkatku tersusun. Selagi aku hidup, selagi ada kesempatan untuk memuntahkan rasa. Lain latar beda kemasan mungkin akan kurangkai cerita indah masa-masa ingusan bersama Enang dan Willy lebih detail lagi. Karena, terlampau banyak jejak-jejak yang telah ditoreh, di rumah dan di bangku sekolah. Seribu halaman buku tidak akan cukup untuk mengungkap riwayat hidup kita bertiga. Hanya risalah ini yang bisa aku sampaikan, mungkin sebagai upaya merajut kembali benang-benang silaturahim yang tercecer, terpisah oleh eksistensi masing-masing, tersekat tuntutan hidup, terjarak oleh profesi; Subang-Karawang-Cairo. Dan semoga, keberkahan selalu menyertai kalian: Enang beserta keluarga, Willy dan Ibu, terkhusus Pahlawan Tanpa Tanda Jasa-ku; Bapak Osmalik.

Label:

posted by Kepinding @22.57 // 0 souls being nibbled

25 April 2010


F#m D Bm F#m

F#m D F#m
D Bm C#7 F#m
F#m D F#m
D Bm C#7 F#m

A B D F#m
A B D F#m

F#m D F#m
D Bm C#7 F#m

A B D F#m
A B D F#m

Perlahan, lembut mengalun. Petikan akustik itu memecah sepi di depan reot gubuk kontrakan. "Ibu", itu judul lagunya, dari Iwan Fals. Hari ini, aku rindu lantunan itu. Betapa separuh dekade tak bertatap, kontakpun tergunting. Terakhir kudengar kau bekerja di kota tempat dahulu kita pernah bermain malam; saat sejumput keinginan tinggal dikecap.

Kau sangar, urakan, pembangkang, semau tindak. Namun di balik raut garangnya menyimpan gurat antonim, itu nilai dariku. Wajar kubilang sangar, seragam putih birunya kerap memerah dan robek-robek di setiap minggat dari sekolah. Melulu tawuran.

Pernah haruku membiru saat aku pulang dari pondok ketika kamarau panjang matamu, tiba-tiba mendadak gerimis. Langit hatiku ikut mendung bersama senyuman. Ini kali pertama kusaksikan sebuah momentum langka.

Dulu kita berlomba melompat jauh, aku sanggup melawan, tapi jiwa kompetitif tak diduga muncul. Kakimu memacu cepat, dan aku tertinggal. Ya, balapan baca IQRA. Masih jelas terekam lari-lari malam kita di trotoar jalan mengejar Sun Go Kong dan The Kung Fu Master.

Bang, tanggal lahirmu adalah simbol kemenangan, bersejarah di Negeri kini kumenantang hidup, dimana pasukan Bintang David Biru anjak tumit dari Semenanjung Sinai. Bang, mari berlomba lagi !!

Wahai, derukan morfem pendekku padanya!
Wahai, serukan denyut nadinya padaku!

Label:

posted by Kepinding @09.28 // 0 souls being nibbled

2 Maret 2010


Ankahtuka wa zawwajtuka bi binti Nunung Hasanah bi mahri nuqud alf rubiyah naqdan

Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bi al-mahr al-madzkur naqdan

Opss, sorry…. sebetulnya tidak menggunakan bahasa arab. Aslinya menggunakan bahasa sunda, tapi untuk entri ini dialihkan pakai bahasa Indonesia. Kurang lebih seperti ini kalimatnya:

“Saya nikahkan putri saya yang bernama
Nunung Hasanah dengan maskawin uang tunai sebesar Sepuluh…… (!@#$%^&*)

Wait
! Para saksi lumayan penasaran mendengar kata “sepuluh”, terlebih intonasi wali nikah yang melafalkannya sekata-sekata. Mungkin lanjutan kata yang terlintas dalam benak para saksi adalah “juta rupiah” atau “miliar rupiah” mungkin, namun yang diucapkan oleh wali adalah “ribu rupiah”

”…. dibayar tunai”

“Saya terima nikahnya dengan maskawin sebagaimana tersebut tunai”

#####
(Flash back 2 hours before wedding ceremony)

“Kok pulang, bagaimana dengan sekolah dan pondok?"

“Sengaja absen sekolah tanpa keterangan. Adapun Pondok, damai saja, tanpa birokrasi.”

“Masuk kamar, dek! Temani teteh!”

Mahar seperti apa yang diajukan dan bagaimana persiapan calon mempelai pria?” tanya sang adik.

“Cukup bacaan surat Al-Ikhlas dan beliau menerima” jawab sang kakak; calon mempelai wanita.

Dikira hanya kalangan santri tradisional saja yang memformalitaskan mahar.

“Lalu bagaimana mengenai bacaannya, apakah makharij, sifat dan ahkam hurufnya tidak diragukan?”

“Ini yang masih ngambang. Sebaiknya kamu pastikan, gunakan pengetahuan Pondokmu!”

“Insya Allah. Kalau boleh bersaran, mungkin bisa ditambahkan seperangkat alat solat, supaya ada benda yang bisa dilihat orang-orang pesaksi?”

“Benda-benda itu terlalu berat. Orang terlalu biasa mempublikasikan lambang-lambang transendental itu, tak terkecuali preman terminal, seakan menjadi jurus untuk menjaga image. Teteh ingin menggebrak pemahaman orang-orang tentang gengsi mahar

Belum habis satu jam perbincangan itu, tiba rombongan pantura, mempelai pria.

“Pintu dikunci, kita berunding 3 kepala!” seru calon mempelai wanita.

Dengan berbekal dasar pengetahuan tajwid di Pondok, dan atas kepercayaan calon mempelai wanita, sang adik menyimak murottal Al-Ikhlas yang akan dijadikan mahar.

“Maaf, sebaiknya ganti saja dengan bentuk materi, uang tunai misalnya! Saya rasa itu lebih baik”

“Ya sudah, berapa yang dimau, Insya Allah dipenuhi?” tegas calon mempelai pria.

“Lima ribu rupiah saja. Mohon dihormati!” tukas calon mempelai wanita memelas.

“Nah, itu kongkrit” salut sang adik.

“Sebentar! Ini terlalu minim. Saya gengsi” sahut calon mempelai pria juragan tambak ikan.

“Itu harapan mati, lagian mahar hanya syarat, jika tidak mau dikatakan formalitas. Saya hanya ingin menjadi sebaik-baik wanita**. Bukankah seperti itu, dik?”

“Ya, tepat. Dan sebaik-baik calon pengantin pria memberikan mahar semaksimal yang disanggupi.”

“Kalau itu memang idealisme prinsipil, bolehkah saya menggenapkan menjadi sepuluh ribu?

“Oke, itu masih terhitung minim. Final!”

Pukul 07.00, rombongan bertolak menuju Masjid komplek, dan resepsi dimulai.

#####
3 year letter
Pondok Pesantren eL-Noure
Baroush, Subang


Siang itu matahari cerah, tapi tak secerah hati sang adik. Hiburan gelantung tupai mendadak hambar. Ciprat pancuran kollah tak lagi riang. Gemercik dayu air irigasi semakin redup. Langit hati terasa mendung, gundah gulana. Orkestra alam seolah tak pernah manggung. Jiwanya layu.

“Gak boleh pulang, baru 4 minggu!” bijak Akang.

Suara hati tak henti memaksa, “Pulang! Pulang! Pulang!” Sore itu, satu tas tenteng sudah disembunyikan di kebun pisang dekat jalan ojek. Pagi buta siap kabur, tentu bukan untuk selamanya, melainkan untuk memenuhi panggilan batin.

Subuh sudah tiba. Para santri sedang asyik menyetori hapalan. Ancang-ancang kaki siap mengayun. Gerangan? Ada ojek di pagi buta membawa satu orang muatan yang menggigil kedinginan mengampiri Pondok, aneh. Hujan embun menutupi wajah mereka. Rupanya kakak ke-3 datang. Tumben, berkunjung ke Pondok. Selama sejarah hidup empat tahun di Pondok, baru kali ini ada anggota keluarga berkunjung.

“Pulang dek, Tetehmu ingin disolati kamu!” dengan raut muka ganjil.

Seru telepati itu nyata. Langit hati mendung tiba-tiba. Sungai mungil mengalir di atas pipi.

Setelah kakak ke-3 menjelaskan maksud kedatangannya pada guru di ruang tamu, kami pamitan dan langsung bertolak. Planing kabur berubah menjadi pulang yang diridhoi.

“Berhenti dulu disini Bang Ojek!”

“Ada apa?”

“Ada tas tenteng di kebun pisang”

“Ya sudah, cepat ambil! Kakak belum biasa diserang embun”

Ojek mengebut menuju jalan raya, sementara kakak ke-3 menggigil bergelatuk.

#####
(4 bulan sebelumnya)

“Menurutmu, nama putra yang bagus apa?”

“Bukannya teteh sudah mempersiapkan nama-nama bagus jauh-jauh hari?”

“Ya. Untuk nama panjangnya sudah ada beberapa pasang, tinggal nama depan yang belum punya. Kamu, ada usul?”

“Kalau hanya untuk nama pasaran itu jelas banyak. Adapun selainnya, nanti saya carikan yang sedikit jarang di pasaran, insya Allah. Lagian masih ada waktu 4 bulan”

“Kalau nama belakangnya Sabil Firdaus bagaimana? Itu paling tendensif”

“Bagus”

#####
(RSUD Ciereng Subang)

“Ea…. Ea…. Ea…..”

Suara bayi mungil itu histeris. Nafasnya dibantu tabung. Siang malam ditunggui paman-pamannya. Setelah seminggu, si mungil bisa diambil. Sesampai di rumah, bayi itu diberi nama Alif Sabil Firdaus. Alif berarti huruf pertama alfabet hijaiyah. Putra pertama sekaligus cucu pertama. Alif juga berpilosofi tegak, teguh, konsiten dan berani. Sabil bermakna jalan. Firdaus berarti surga tertinggi. Jadi, Alif Sabil Firdaus dimaksudkan: putra tangguh yang membawa jalan menuju surga, atau dengan kata lain adalah: seorang da’i. Bisa juga bermakna: putra yang mengantarkan ibu kandungnya ke surga. Ya, benar. Sang ibu yang meninggal “syahid” akibat melahirkan dengan cara cesar.

_____________
*
Dedicated to My Sister, Ummu Alif

**
عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال :
"إن أعظم النكاح بركة أيسره مؤنة"

Diriwayatkan dari `Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw bersabda: sesungguhnya perkawinan yang besar keberkahannya adalah yang paling murah maharnya.”



Label:

posted by Kepinding @09.08 // 0 souls being nibbled

25 Juli 2007

Pemirsa yang berbahagia (seolah bawain host)... kalo elo-elo pade mo tau (kalo gak mau tau kagak usah lanjutin baca!), gW punya seabreg nama yang pernah gW sandang (tepatnya nick name sih). gW mau urai satu-persatu nama dari mulai gW lahir ampe segede ghini (tahun posting tulisan ini 2007, berarti usia gW 23tahun). Elo mungkin heran kenapa gW bahas yang kayak ginian. Asal elo tau, kalo elo ngarti bahasa arab yang baik dan benar plus ngarti Qadhiah Tasmiyah, Lo pade pasti ngambek deh. Ok langsung aja cuy...

--Abdul Maksum--
Tertanggal 19 November 1993, Dinas Kependudukan Kecamatan Subang meresmikan nama gW di jagat raya ini. gW buat tuh Akte Kelahiran di Sekolah, kebetulan tuh Dinas gi sensus akte di SD gW. Pas jam istirahat, gW cabut jalan kaki ke rumah (berjarak setengah kilo dari Skul)memaksa Emak yang gi sakit lepas ngelahirin adik gW. Biaya pembuatan Akte cuma Rp. 5000. Jadi kapan lagi kalo gak dibuat cepat? Lagian kalo dah punya Akte Kelahiran, gW ngerasa tenang plus senang aja.

--Maksum--
Di rumah, saudara2, tetangga ma temen2 SD, semuanya manggil gW pake nama nih yang biasa disingkat “Sum”. Lalu kenapa Bonyok waktu gW Balita manggil “Maksum”? Mungkin kalo manggil Abdul, yang biasanya cuma menjadi “doeL” akan membuat tetangga2 ato orang2 yang baru kenal ma gW berfikir, “Nih anak di panggil doeL, mungkin nama aslinya ‘Gundul’, ato pas lahir kagak berambut, oleh sebab itu bonyoknya manggil Gundul yang disingkat ‘doeL’” hahahaha ngawur. Nice name “Maksum” pun berlaku di lingkungan Pesantren yang pernah gW hinggapin.

--Doel--
Di bangku SLTP ama SLTA, temen2, guru-guru manggil gW “doeL”. Trus kalo gW gi ngedudukin meja, trus temen2 nyuruh gW turun, maka jadinya mereka manggil gW “turun doeL” yang kalo digabung tuh dua diksi kata, bisa bermakna “Rambut botak acak-acakan”. But, its OK.

--`Abdun Ma’shum--
Dibangku Kampus, tepatnya Institute of Arabic Language and Islamic Studies Al-Imarat Bandung semua Dosen kalo ngabsen nama gW pasti mukanya nyolot, terutama (dengan tidak mengurangi hormat gW) Ust. Suparta, Lc. Sang Jawara Banten. Karena nama gW yang tercantum di Kasyful Hudhur bertuliskan (secara eja) “Ain, Ba, Dal, -spasi- Alif, Lam, Mim, `Ain, Shad, Waw, Mim” (yang diselingkungkan dalam bahasa indonesia menjadi `Abdul Ma’shum) membuat keningnya mengkerut. Tiap kali dia memanggil nama gW, pasti terdiam sejenak. Tersenyum risih. Kadang nyeloteh dengan dialek geramnya yang terkesan sangar “Limadza lam yazal ismuka `Abdul Ma’shum?”. Tak hanya para dosen, teman2 gW pun demikian, baik di kelas, ato di Asrama.

Saking pusingnya mikirin polemik nama gW, hati pun tergerak tuk bertanya pada Dosen Sepuh Jebolan Al-Azhar University; Ust. Abu Bakar Yasin. Beliau lah satu-satunya Dosen yang gak pernah menyoal nama gW. Beliau punya ruang khusus di Ma’had ini. Dan siapa pun bisa bertemu di ruangannya jika ada jam kosong. gW datangi ruang itu. Singkatnya, dengan bijak beliau menegaskan “Al-`Alam la yu`allal”. Nama tetaplah nama. Gak bisa dikorek-korek kenapa begini- kenapa begitu. Terkecuali jika ingin istifadah dengan argumen “Al-ismu `alal musamma `alaih”. Tapi ‘ala kulli hal, kaidah yang dikasih ma Ust. Abu Bakar tuh dah cukup menjadi argumen gW tuk nge-radd individu-individu yang kukuh mengkritisi nama gW. Saking fatalnya imej pemaknaan nama gW, sebagian dosen dan teman2 kampus minta gW ganti Akte Kelahiran.

Lalu pihak Administrasi Kampus ikut andil. Diam-diam tanpa kompromi merubah tulisan absen gW menjadi `Abdun Ma’shum (dalam ejaan arab, huruf “Alif” dan “Lam” di hapus) yang mempunyai arti:” Hamba yang terjaga”. Ini hanya sebuah kebijakan antipatif. Sekarang nama gW dah rada aman. Tapi ada juga reaksi gokil dari temen gW. Katanya, `Abdul Ma’shum tetap nama yang keren. Nama itu bisa disinonimkan dengan Tabi’ Ar-Rasul yang diartikan pengikut Rasul, ato bisa juga Pecinta Rasul (Muhammad Saw.). Ide temen ini juga yang nambah kuat argumen bagi para penyoal nama gW.

Opsss, iya lupa. gW lom jelasin arti nama asli gW.

`Abd = Hamba (Penyembah)
Al-Ma’shum = Muhammad Saw. (Rasul Kita)
*Rasul diberi nama Al-Ma’shum oleh Allah Swt. dikarenakan beliau mendapat jaminan gak punya dosa dan kesalahan dalam hidupnya.

Lalu dua kata tersebut dipadankan menjadi `Abdul Ma’shum yang bermakna kontekstual sebagai “Penyembah Muhammad”. Sedangkan orang Muslim, menjadi Musyrik jika meyembah kepada selain Allah atau menyekutukan-Nya.

--Ibnu Abie Ridhwan--
Ini adalah nama kunyah (dibaca: kun-yah) gW dikalanagn elit Sunni Bandung.
Ibnu = Putra
Abie = Bapak
Ridhwan = Orang yang selalu diRidhai Allah (Nama Adik gW sih)

Jadi, artinya, Putra Bapaknya Si Ridhwan. Hehehe… ceritanya mo ngikut nama-nama orang terdahulu kayak Ibnu Mas’ud, Abu Darda, Sa’ad Ibnu Abi Waqash dll, biar rada gimanaaaaa ghitu.

Tepatnya bulan Juli 2005, gW ikut Daurah Salafiyah yang bertempat di Lembang kedua kalinya setelah yang pertama pada Juli 2004. gW umpetin nama asli gW. Kalo dulu pas Daurah pertama gW pake nama `Abdul Ma’shum, maka kali ini orang-orang hanya mengenalku sebagai “Ibnu Abie Ridhwan” caellaaaaa…..

Di akhir hari Seminar, Ust. Abu Yahya; Tokoh Sunni Bandung yang bertugas sebagai penyarah bahasa, mengumumkan bahwa dua hari lagi, Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang berpusat di Mekah akan mengadakan Daurah seminggu di Bogor, dan Jema’ah Sunni Bandung diundang membawa perwakilan untuk mengahadiri acara tersebut dengan syarat lulus interview ama Syeikh `Adil el-Gambie yang merupakan pemateri selama seminar berlangsung. gW ikut interview dan lulus. Setelah menjawab beberapa pertanyaan Syeikh, gW ditanya, “Siapa namamu sebenarnya?”
ku jawab, “`Abdul Ma’shum”
Mendengar ikhwal nama gW, Syeikh dari Tanah Saudi itu menyuruh menambahkan kata “Rabb” di pertengahan padanan. Maka, jadilah nama gW:

--`Abdu Rabbil Ma’shum--

Nama yang kongkrit. Baru kali ini ada orang yang ngasih solusi bijak, plus gokil. Dengan tidak mengubah nama depan dan belakang, beliau hanya menambah kata “Rabb” saja.
`Abd = Hamba
Rabb = Tuhan
Al-Ma’shum = Muhammad Saw.
Memiliki arti: “Hamba Tuhannya Muhammad”

Kok bisa-bisanya dosen Al-Imarat gak ada satupun yang mengarah ke penambahan kata “Rabb” di tengah? Padahal bisa jadi mereka dah tahu. Mungkin aja pas masuk kelas jadi lupa ngasih tahu karena fokus ke diktat (kalleee).

Dan singkatnya, Daurah OKI telah gW ikuti dengan menggendol beberapa buah-buahan. Ada buah tangan, buah pena, dan tentunya buah pikiran. Nah, terkhusus buah tangan, Panitia acara menuliskan nama gW dalam Sertifikat dengan nama `Abdu Rabbil Ma’shum (tentunya pake bahasa arab dong).

Nama ini juga tercatat dalam Syahadah PP. Miftahul Huda Manon Jaya sebagai orang yang yang pernah nyantri di Pondok Salaf terbesar di Jawa Barat.
Kini sejarah tahu, bahwa nama gW pernah tercatat di dua Sertifikat sebagai `Abdu Rabbil Ma’shum.

--Saleh Hamzah--
Sebetulnya nih nama iseng banget. Tapi gW tulis supaya senior gW yang bernama Ust. Aji selalu ku kenang jasa-jasanya. Ceritanya begini. Pertama kali gW menginjakkan kaki di bumi kinanah, gW dah berazam mo pake kacamata, karena mata gW dah buram semenjak di Indo, terutama yang kanan. Malam hari tepatnya, gW ma Kang Aji bertolak ke Rabea Adawea Hospital tuk meriksa minus mata gW.
gW disuruh duduk langsung di bangku tunggu panggilan. Sementara Mang Aji ngedaftarin nama gW di bagian Administrasi. gW masih Lom becus mahamin bahasa `amiyah waktu itu. Maklum masih MABA. Jadi Mang Aji-lah yang ngurusin administrasi. Beberapa menit, Mang Aji menghampiri dan memberikan kertas panggilan. gW rada heran gitu, kok di kertas itu tertulis nama “Saleh Hamzah”. Siapa gerangan? Rupanya nih kelakar si Mang Aji. Katanya supaya mudah dipanggil nama dan menghindari polemik pemaknaan nama asli gW. Ngek… ngok…

--Yahya Ayyash--
Ini adalah nama gW selanjutnya. Ustadz Haris Ramlan, Lc. yang ngasih nih nama ke gW. Di tempat gW bergerak, kampus, sekretariat Mahasiswa Indonesia, ruang sosial gW dikenal sebagai Yahya Ayyash atau dipanggil Yahya (doank). Nama ini merupakan nama pejuang Palestina yang Syahid berjuang melawan rezim Israel. Seorang pemuda yang rela mengorbankan nyawa demi menentang kolonial yang ingin menduduki kota suci Al-Quds.

Yahya = Hidup (Nama Nabi, Putra Zakaria)
`Ayyash = Tukang roti; Tukang menghidupkan suasana

Terserah mo ngambil arti yang mana. Yang jelas sebagian temen pada bilang “Yahya Losta Masta, Elo bikin Hidup Lebih Hidup“. Padahal gW kagak pernah ngerasa begitu. Yang ku rasa hanyalah menyusahkan hidup orang sekitar. Bagaimanapun juga, terima kasih banget buat orang-orang yang ada di sekelilingku, yang banyak memberikan perhatian atas polemik nama asli gW.

Dan elo yang baca tulisan ini, terserah mo manggil gW apa. Mo manggil gW kepinding, Gembel, atawa apa kek, pokoke terserah, terserah dan terserah...

Thanx dah mau baca benang kusut nama gW.

Label:

posted by Kepinding @07.00 // 0 souls being nibbled


Home Page



WELCOME
to
BiLik Kepinding
_About_
  • Blog
  • Me
  • My Name
  • Sotoy Mode On
  • Ada Apa Dengan Sareupna
  • Dialektika Luqman
  • Hujan Dalam Al-Qur'an
  • Ketika Sastra Berpolitik
  • Korelasi Politik & Tasawuf
  • Positif Thinking
  • Memaknai Kata "Rokok"
  • Rupa Allah
  • Silaturahmi, Menyoal Etimologi
  • Sanggar Sastra
  • Tahun Kesedihan
  • Tentang Hari
  • Tentang Setan
  • Acak adut
  • Bangkit Itu...
  • Buta Politik
  • Gayus Tambunan
  • KTP Tanpa Kolom Agama
  • Malaikat Yang Gelisah
  • Manisnya Negeriku
  • Menciptakan Teroris
  • Model Manusia Ala Syafi'i
  • Mother Nature
  • Teko
  • Pemulung Sampah
  • Sesal Mahatma Gandhi
  • Pernyataan Sikap MUI Terkait Pemblokiran Situs Islam Online
  • Sahal Mahfudz
  • Terima kasih Malaysia
  • Qana'ah Aku
  • Angin Goeroen
  • Abu Nawas di DPD
  • Asparagus Vs Molokhia
  • Curi-curi Pandang
  • Domba = Embek
  • Feminin But Maskulin
  • Gembel Loba Bacot
  • Keroncongan
  • Maafkan Aku Tuhan!
  • Ninja Egypt
  • Paranormal St. Farouk
  • Perang Nyok !!
  • Reboisasi Tai Kebo
  • Sate Hijriyah
  • Tadabburrr
  • Ya Ahma... 3x
  • Ngigau DotKom
  • Aku Naluri
  • Aribieku
  • Berhentilah, Pak Tua
  • Berkasih
  • Bertarung
  • Biarkan Aku
  • Caliphate Itu
  • Globe Esok
  • Goblok Anakmu, Ibu
  • Intifadhah
  • Jas Apa?
  • Kelas Tambahan
  • Kudeta atau
  • Lelap
  • Madrasah Masa Depan
  • Malam Qadar
  • Mayday
  • Mendebur
  • Emansipasi
  • Menggeledah
  • Menghidu
  • Merasai
  • Monolog Sepi
  • Mumpung
  • Nomadic Chronicle
  • Pak Kumis
  • Paul et Verginie
  • Ramlah
  • Rongsok Senja
  • Sang Najmah
  • Sapu Lidi
  • Setak-setik
  • Terjegal
  • Terseret
  • The Stool Pigeon
  • Titip Peluk
  • Trotoar
  • Gemuruh
  • Aahh... 2020/1442
  • Bercakap Bersama Rabi'ah
  • Celoteh Demokrasi
  • Dialog Diri
  • Gigit Koruptor !!
  • Jalan Raya Kehidupan
  • Layar Listrik
  • Memaknai Rakyat
  • Menciptakan Teroris
  • Menikmati Demokrasi
  • Mrs. Suzanne
  • Prinsip Hidup
  • Polarisasi Media
  • Racau Terminal
  • Seragam SD
  • Surat untuk Pak Alwi
  • Teruntuk Adik
  • _Memoar_
  • Nurdin Bucek
  • Three Musketeers
  • Tragedi Jalan DAM
  • Ummu Alif
  • Galeri Koleksi
  • Dimana Pun Berada, Aku Akan Shalat
  • Inikah Kode Etik Perang Itu?
  • Kamar Bujang Goeroen
  • Perestroika
  • Tank Revolusi 25 Januari
  • Apa Kata Mereka Tentang Saya?
  • Kata Syahrul Fakhri
  • Kata Ramadhan El-Syirbuny