Utusan Pemerintah Indonesia Pak Alwi Shihab selaku utusan RI, anda dikutip Harian al Misr Yaum telah memuji-muji setinggi langit Diktator Abdul Fatah dan sebaliknya menuduh Ikhwanul Muslimin, korban kebrutalan, sebagai gerakan teroris yang keluar dari prinsip Islam. Jika ucapan itu benar, ada beberapa pertanyaan yang harus anda jawab. Bukankah tidak ada riset jujur yang mendukung pernyataan anda Pak Alwi? Dari mana referensi dan sumber anda? Dunia sepakat dua hal untuk kasus Mesir, pertama, ada kudeta militer dan pelanggaran HAM berat disana yang dilakukan Fir'aun abad 21, Abdul Fatah Sisi. Akomodasi Barat atas Sisi lebih karena REALPOLITICS. Mesir secara geo politik telah lama menjadi bagian kepentingan Barat. Kedua, tidak ada riset valid yang membuktikan Ikhwan sebagai organisasi teroris. Dari AS? Uni Eropa? Atau PBB? Silahkan pak Alwi bongkar file anda, sebaliknya, dua tahun kudeta, Ikhwan terbukti sebagai greatest peaceful Islamic movement on earth. Bahkan, Downing Street baru saja memasukkan ke laci hasil investigasi tentang Ikhwanul Muslimin yang diketuai mantan Dubesnya untuk Arab Saudi. Tim investigasi itu dibentuk atas tekanan Saudi dan Uni Emirat Arab. Namun hasilnya nihil, tidak ada fakta yang menyakinkan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah gerakan teroris. Hasil ini tentu tidak sesuai dengan pesanan Arab Saudi dan keinginan PM David Cameron yang setengah mati hendak memasukkan Ikhwan dalam daftar organisasi teroris. Cameron sadar dia tidak boleh crossing the line. That's the beauty of western democracy...... Pak Alwi, jika benar anda mengatakan demikian, maka anda telah melakukan dua kesalahan serius. Pertama, anda telah menyelewengkan pajak rakyat (membiayai perjalanan anda ke Mesir) dan kedua, mengkhianati amanat rakyat yang membenci kezaliman. Jangan sampai publik menyebut anda intelek tukang dan mewakili kepentingan kelompok.
Saya setuju bahwa Islam hanya menghendaki sistem khilafah, yaitu sistem satu pemerintahan dunia yg dipimpin satu orang khalifah, dengan Al-Qur'an & Hadits sebagai sandaran hukum & perundang-undangan (Khilafah 'Ala Minhajin Nubuwah). Sistem itupun sudah dijanjikan Rasul akan kembali setelah lengsernya sistem pemerintahan diktator totaliter (Mulkan Jabbar) yang spiritnya merasuk pada sistem demokrasi terpimpin & dinasti kerajaan.
Masalahnya, mayoritas negara-negara di bumi ini sekarang sedang menganut sistem demokrasi, yaitu konsep politik yang berpijak pada hukum suara terbanyak; hukum musyawarah manusia; vox populi vox dei; hukum kafir; hukum yang dianggap musyrik oleh kaum fundamentalis. Dan Indonesia sedang terjebak di dalamnya.
Lantas ketika panji hitam khilafah bertuliskan La ilaha illallah belum berkibar, dan semua kita sedang berada di tengah hegemoni demokrasi, apakah kita hanya diam saja menyaksikan kebijakan negara dimainkan oleh wakil rakyat yang jauh dari moral agama, lalu kita golput? Kalla... itu bukan solusi kongkrit bro...
Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim. Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.
Golput boleh-boleh saja, bukan perkara kriminal. Cuma saya lebih memilih menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan, saya memilih terlibat memperjuangkan kemenangan parpol yang mengusung wakil rakyat yang akan mewarnai kebijakan undang-undang dengan moral agama.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika demokrasi di Indonesia dimenangkan oleh parpol yang mengusung wakil rakyat yang jauh dari nilai agama, dekat dengan hawa nafsu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kelak polwan dilarang memakai jilbab, atau mungkin siswa SMA tidak boleh berkerudung sebagaimana dulu pernah terjadi pada masa orde baru.
Apa yang bisa kita perbuat jika hanya menunggu khilafah tegak, sementara setiap hari anak-anak kita disuguhi tontonan-tontonan TV yang tidak berkualitas karena kebijakan undang-undang penyiaran dikontrol oleh orang-orang yang sembrono.
Apa yang bisa kita perbuat ketika negara kita dipimpin oleh presiden yang pro-zionis, pro-kepentingan barat, menjadi budak "negara super power", tak punya harga diri, tak punya nyali membela saudara-saudara muslim yang dibantai di Mesir, Palestina, Suriah, Afrika Tengah, Rohingya, Thailand, dll.
Apa jadinya kita hidup di tengah masyarakat yang merestui lokalisasi prostitusi, melegalkan pernikahan sesama jenis, membiarkan generasi muda bebas bergaul, tidak ada aturan moral yang ketat yang mengatur itu semua.
Dalam konteks demokrasi, saya tidak mau menjadi buta politik sebagaimana yang dijelaskan oleh penyair Jerman Bertolt Brecht:
"Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa, dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional."
Saya suka dengan Quotenya tokoh Gontor, Hamid Fahmy Zarkasyi (ketua MIUMI):
"Jika anda tidak mau ikut pemilu karena kecewa dengan pemerintah dan anggota DPR, atau parpol Islam, itu hak anda. Tapi jika anda dan jutaan yg lain tidak ikut pemilu maka jutaan orang fasik, sekuler, liberal, atheis akan ikut pemilu untuk berkuasa dan menguasai kita. Niatlah berbuat baik meskipun hasilnya belum tentu sebaik yang engkau inginkan."
So... sambil menunggu cahaya khilafah menyinari jagat raya, saya memilih menyalakan sebuah lilin di tengah kegelapan demokrasi. Saya akan menunggu khilafah 'ala minhaj an-nubuwah yang akan membawa kehidupan ini minazh-zhulumat ilan-nur sambil mendukung manusia-manusia mulya yang memperjuangkan nilai-nilai moralis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui perahu demokrasi, insyaAllah. .
Bagaimana kabarmu seharian ini, Rabi'ah..? Maaf... aku baru menyapamu selarut ini.
Wahai Rabi'ah... engkau tahu betul bahwa semakin engkau tenggelam dalam berbincang-bincang dengan lawan jenis, hatimu akan semakin gersang. Semakin engkau asyik bersua dengan lawan jenis, pikiranmu akan semakin kalut. Semakin engkau bersenda dengan lawan jenis, alur hidupmu akan semakin tidak teratur. Rabi'ah sungguh tahu candu-candu yang akan mengganggu kekhusyuannya dalam mengabdi pada Tuhannya.
Rabi'ah.. Oh.. Rabi'ah... yang tadinya engkau seorang babu yang menghamba majikannya, kemudian engkau berubah menjadi wanita merdeka yang menghamba Tuhannya semata. Kau taruh cintamu total hanya untuk Tuhanmu, sehingga Hasan Al-Bashri pun tak sanggup mengganggu cintamu pada "Rabb"mu. Dan lelaki sekaliber Muhammad bin Sulaiman Al-Hasyimi; Gubernur Bashra yang kaya raya itu pun tak mampu membuat hatimu luluh.
Untuk menolak lamaran para lelaki yang tergila-gila, engkau tidak merusak paras cantikmu sebagaimana yang dilakukan oleh Naila gadis belia dari Syam itu. Engkau cukup menyepi diri dari keramaian. Bagimu cukup menghindar rayuan-rayuan hawa nafsu lelaki dan menepis godaan duniawi lainnya dengan semata mendekatkan diri pada cinta sejatimu; cinta langit, cinta abadi, cinta pada Tuhanmu.
Kemudian aku mendendangkan sebait syair kepada Rabi'ah tentang Ramlah: "Tajulu khalakhilu an-nisa wala aro ... Liramlata khalkhalan yajulu wala qulba"
Tertegun Rabi'ah mendengar larik-larikku tentang Ramlah. "Siapa pula itu Ramlah?" tanya Rabi'ah penasaran.
"Kecintaannya pada Tuhannya sama persis sepertimu, namun dia tak bercincin bergelang, tak beranting berkalung. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan wanita tuli, bisu, buta, cacat," jawabku.
"Ramlah tak punya muka, wajahnya rata," aku melanjutkan cerita. "Hah..." Rabi'ah sontak heran, "maksudnya bagaimana, apa ia seperti Naila yang merusak parasnya itu?"
"Oh... tidak, Ramlah tak seperti Naila. Ramlah sebenarnya wanita cerdas yang dikaruniai fisik yang sempurna, namun ia enggan karunia Tuhannya itu menjadi bahan gangguan bagi para pria pada zamannya. Ramlah lebih memilih menutup tubuhnya dengan baju kurung yang ia kenakan sehari-hari. Tak pernah setitik anggota tubuhnya terlihat oleh pria manapun yang bukan mahromnya."
Pada akhirnya aku memberi Rabi'ah sebuah kisah tentang Fariha. Aku mengawali kisahnya dengan sebait puisi:
Aku ingin menyebutmu "bunga pagi" Semerbak wangimu berhembus dibawa angin Mimpi tentangmu pun tak pernah berhenti merasuki malam-malamku Hati ini tak kuasa berbisik: aku ingin membersamaimu Temani aku dengan senyummu yang manis Maka ku bisikkan pada sepertiga malam, Bahwa helus angin yang membawa semerbak bunga pagi itu Ia sudah ada disini, di kota mimpiku. Aku sedang menjemputnya Melewati jalanan sempit berduri berbeling.
"Siapa itu 'bunga pagi'?" tanya Rabi'ah "Dialah Fariha," jawabku "Darimana kau mengenal Fariha?" " Entahlah, mungkin Malaikat langit yang telah mendatangkannya kedalam hidupku?" "Dia-kah yang terlukis dalam mimpimu sebagai bulan yang kau temui itu?" "Ya, benar..."
Adalah suatu keajaiban kaki telah melangkah sejauh ini. Sesekali berhenti meraba silam, ternyata bergumul kaki-kaki yg masih tertatih. Meskipun begitu, pendakian harus dilanjutkan. Perjalanan masih panjang, terdapat duri & beling menghadang lagi, untuk ditaklukkan lagi.
Apa gunanya menampilkan embel-embel jejak yg tengah melambung, sementara tangan ini terus mengepal diatas rangkak jiwa-jiwa yg pernah kutemui dalam lembah. Jejak ini memang harus berlanjut, namun tak begitu perlu ku kibar-kibarkan embel-embel itu!
Ya... semestinya demikian, sejauh apapun aku melompat, sejauh itu pula aku membawa titik nol. Titik pusat dimana aku pernah menyebur, titik jati diri, titik kearifan lokal. Jika ku tak mampu begitu, untuk apa aku mempunyai atribut, atau untuk apa aku hidup sebagai manusia?
Wahai diri... berkeping-keping kristal mata terpecah, membuncah terpendam dalam ngilunya duri yg menusuk, beling yg menyayat. Kenyataan ini memang pahit, karna aku tidak bisa memilih tempat kelahiran oleh diri sendiri. Aku tak perlu berkesah atas lara-lara yg menghampiri, karna energi positif akan selalu membimbingku, aku bisa merajut mimpi, menyulam harapan dalam pola-pola yg sederhana seadanya berkesinambungan, kecuali aku betah bersama mereka yg berada pada titik nol. .
Dik, tahukah engkau selepas pulang sekolahku, ku pergi diam-diam menukar baju-bajuku di loakan dengan beberapa ribuan, demi menjejali sakumu?!
Dik, tahukah engkau bagaimana dulu setiap pagi aku rela kehilangan satu jam mata pelajaran karena jarak yang ditempuh dengan berjalan kaki, demi mengantarmu sampai di gerbang sekolah putih-merahmu?!
Dik, tahukah engkau mimpi-mimpiku untuk menjadikanmu seorang intelek, yang bijak, yang militan, yang kritis, yang berjiwa pemimpin, yang peka terhadap gejala sosio-politik, yang entrepreneur, yang problem-solver, yang peduli terhadap sesama, yang santun bersahaja, yang mendarah-dagingkan esensi sejarah masa lampau dan masa depan?!
Dik, bagaimana engkau akan memproses hal-hal besar, sementara hal-hal kecilmu tak jua kau rampungkan?! Bagaimana kau akan melawan arus besar, sementara kau terkipas sepoi angin?!
Setiap orang pasti pernah gelisah, galau, punya masalah, kesulitan, putus asa, patah semangat, stress, sedih, dan terluka. Tidak ada yg salah, hal2 tersebut sangat wajar dan manusiawi. Lalu jika dalam kondisi itu malah membuat seseorang jauh dari Allah, itu juga hal yg wajar dan manusiawi. Nilai salah dan tidaknya itu bisa diatur oleh hukum relativisme, dibela oleh hukum kausalitas, dan dihakimi oleh Allah kelak.
Sekiranya reaksi sikap atas kondisi yg menimpa bisa dipertanggung jawabkan, why not...? lakukan saja!, yg penting sikap itu bermanfaat untuk diri sendiri, bagi orang lain dan alam. Senada dengan hal ini, ada pandangan prinsipil yg diutarakan oleh Rasul Shallallahu `alaihi wasallam:
"من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه"
(min husni islamil mar'i tarkuhu ma la ya'nihi)
"diantara kesempurnaan islam seseorang, adalah meninggalkan hal-hal yg tidak layak baginya" (HR. At-Tirmidzi)
Dan hal urgent lain yg perlu direnungkan adalah memahami makna kecerdasan dan kelemahan, sebagaimana yg dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu `alaihi wasallam:
الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت والعاجز من أتبع نفسه هواها وتمنى على الله
(al-kaysu man dana nafsahu wa'amila lima ba'dal-mauti, wal-'ajizu man atba'a nafsahu hawaha watamanna 'alallahi)
“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan nafsunya dan berbuat (mempersiapkan amal) untuk masa sesudah mati (akhirat), sedangkan orang yang lemah ialah mereka yang mengikuti hawa nafsunya dan ―hanya― berangan-angan atas ―ampunan― Allah."
(HR. At-Tirmidzi, dari Abu Ya'la Syaddad bin Aus).
Kehidupan itu seperti jalan raya. Setiap kita sedang mengendarai kehidupan ini. Di jalanan pasti kita akan menghadapi kerikil, paku, lubang, ada jalanan menanjak, menurun, ada belokan, terjebak macet, ada polisi, dan tentunya ada aturan dan rambu-rambu.
Setiap orang akan memilih jalannya masing-masing. Ada orang yang menginginkan jalanan yang lurus, tanpa hambatan, ada juga yang memilih jalanan penuh liku, semuanya tergantung pada kita mau memilih jalan yang bagaimana dan seperti apa, dan tentunya kita akan menghadapi semua akibatnya, baik dan buruk, selamat atau celaka. Jika kendaraan kita rusak, atau ban-nya bocor, sepatutnya kita pergi ke bengkel. Jika bensin kendaraan kita habis, semestinya diisi ke pom.
Begitupun dengan hidup ini. Adakalanya kita kecelakaan, habis bensin, rusak, pilu, sedih, gersang, maka sewajarnya kita bergegas memperbaiki diri, memupuk diri dengan ilmu, mengambil hikmah dari kejadian-kejadian, meningkatkan spiritual, memperbaiki moral, menjunjung etika, melatih emosional, dan tidak terjun pada kesalahan yang sama. .
Sejatinya sebuah negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi bersikap tegas terhadap problematika yang menerjang terkait reputasi hukum nasional yang diinjak dan diobrak-abrik terlebih bukan sekali-dua, maka tindakan nyata harus digulirkan, perang sebagai contoh. Apapun konsekuensinya, begitulah negara demokrasi yang terkesan enggan mengenal batas SARA. Dan Indonesia belum total menjadi budak demokrasi dikarenakan kebijakan-kebijakan yang ada dirasa kurang tegas alias melempem. Atas kebijakan2 yang melempem itu, jelas Indonesia belum layak disebut negara demokratis, monarkis, apalagi calipathis. Tepatnya negara nanggung.
Pada hari perayaan HUT Kemerdekaan RI, di beberapa tempat di Indonesia, termasuk kampung saya, ada tradisi lomba yang cukup unik, yaitu lomba mengambil koin yang tertempel pada buah pepaya yang dibaluri oli. Peserta yang dapat mengumpulkan koin terbanyak, dialah yang menjadi pemenang. Jenis lomba ini biasanya digelar untuk anak-anak sebagai penyemarak event peringatan kemerdekaan. Seperti lomba panjat pinang, pesan moral dari lomba mengambil koin dari buah pepaya ini adalah spirit perjuangan para pahlawan dalam merealisasikan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan asing. Dikarenakan perayaan dirgahayu RI tahun ini (2010) bertepatan dengan bulan Ramadhan yang jika digelar siang hari bisa mengakibatkan batal puasa, maka saya punya ide, bagaimana kalau perayaan gigit menggigit itu tetap diadakan di siang hari, namun dengan alternatif "Mengigit Para Koruptor". hihi... ~!@#$%^&*())_++|?><":
Kata "rakyat" yang sudah dibakukan dalam kamus besar bahasa indonesia itu adalah adopsi dari bahasa arab (راعيات) "ra'iyat" bentuk plural dari tunggal (راعية) "ra'iyah" yang berartikulasi "diayomi", diayomi oleh (راعي) "ra'i" (masih satu akar dengan kata "ra'iyah") yang dalam sebuah daulat adalah pemerintah. Ketika rakyat sebuah negara terlepas dari pengayoman pemerintah setempat, maka dia bukan disebut rakyat lagi, melainkan warga. Terserah apa itu definisi warga menurut aku, kamu dan semuanya !!
Pengharusan berseragam putih-merah bagi siswa sekolah dasar adalah menerapkan nilai nasionalisme sekaligus memperkenalkan bahwasanya warna bendera ibu pertiwi adalah merah putih. Namun sayang warna putih pertanda suci itu dipakaikan di baju, sedangkan merah perlambang berani dikenakan di celana. Haha... pantas setelah besar generasi dasar itu hanya memberanikan celananya, bukan baju yang lebih berani membusung dada.
Dengan modal diktat copy-an, ketegangan imtihan term I level 3 menjadi angin lalu. Semampu tenaga, mata-mata kuliah itu; Pilologi Arab-Andalusia, Riset Balaghi, Dialektologi-Qira’at dan Histori Dinasti Abbasiyah ditaklukkan. Jangan sampai leher tertunduk lagi, semoga. Sebetulnya tundukkan kemarin adalah ladang kesempatan untuk terus berlatih, mengais pengalaman, menguatkan yang lemah, melengkapi yang kurang, mematangkan yang mentah, menambal yang bolong, meluruskan yang bengkok, mengasah yang tumpul, mereproduksi yang mandul, menongkati yang pincang, mengaca-matai yang rabun, menyehatkan yang sakit dan menstabilkan yang labil. Dengan begitu juga menjadi ajang mengumpul energi, menjejali memori, meraup ensiklopedi, memupuk buah pena dan mengelola pustaka. Ya, benar. Kondisi seperti ini wajib ditanggapi positif. Ini karunia. Bukankah “Ana inda zhanni ‘abdi bi?”
Berlama-lama di sini bukan problem negatif, justru itu kenikmatan. Pesan guru di pondok dulu bisa dipertimbangkan, “nilai formal bukan segalanya, yang penting bagaimana mengimplementasi “khairun--nas anfa’uhum lin-nas”. Anis Matta pernah orasi, “jabatan tidak sama dengan karya.” atau gaya Bung Yudha, “bagaimana pun kita, yang penting kontributif.” Itu tipikal-tipikal manusia operasionalis, bukan demagog belaka.
Setelah menjalani imtihan 3 minggu yang lalu, seperti biasa, aktivitas gerak habis dibagi tiga. Sepertiga hari hangus terbakar kompor pencetak semprong es krim, sepertiga lagi tertutup selimut Bordein, sepertiga sisanya pecah menjadi kepingan kondisi; kadang terlena melototi tarian sejumlah morfem dimana jadinya duduk, kadang bermetamorfosa menjadi gelas kosong yang siap dituang air, kadang ngelantur di ruang-ruang penuh kepala, kadang ikut-ikutan jadi suluh api unggun, kadang memuntahkan aksara pada carik-carik diary atau layar listrik punya orang, kadang seperti banjir hujan, semau sandal tua dekil mengalir, keluyuran menelisik legokan bumi, kadang juga kusut, semraut dan carut-marut diganyang seraut. Dan diantara sepertiga itu, kepingan kondisi punya otoritas besar, sepertiga yang dua ditindas dibudaki. Kebijakannya bisa memadamkan kompor pencetak semprong dan menyingkap selimut Bordein.
Apakah pola nafas seperti ini nyaman? Tidak, sekali-kali tidak. Bahkan enggan terus begini, larut dalam kubangan orientasi stagnatif. Metabolisme intelektual kurang sehat. Itu nyata, karena orang lain sudah terlalu jauh melambung, berada di garda depan, buah peluh mereka melimpah, setiap laju detik diguna untuk memutar ide, spirit mereka tsunami, angan mereka badai katrina. Bukankah untuk hal positif, manusia mesti menjengkal ke atas? Inginnya berontak. Mendobrak batas-batas kewajaran. Belum ada strategi mulus. Hanya mencoba realistis, namun idealis yang dijalani. Adapun keajaiban, sepertinya bukan diharap, melainkan ditelusur. Karena, teriak saja belum cukup. Dan akhirnya, tersebut label sebagai mahasiswa abadi dan tukang.
Menyoal layar listrik, ini lumayan berbahaya, bisa kena setrum, kecuali perlahan ketayapan menyingkir. Wajar, hak pemilik lebih besar dari penebeng. Berangkat dari sana, ingin rasanya ada se-inchi layar untuk mempekerjakan 10 jari memindahkan larik kata, siapa tahu bisa meledakkan nuklir di latar bumi. Lebih riang jika ditambah kabel pengakses informasi; kabel yang bisa mengunjungi pustaka besar sejagat. Bukankah teknologi adalah anugerah Tuhan?
Posisi seperti ini bisa memanusiakan manusia. Cukup Iwan Fals yang menjadi tiru. Orde Baru membuat gitarnya terpetik lantang. Ini Masyaqqah, tapi mawhibah, bahkan madrasah, dan kening layak mendarat. Jadi, biarlah tetap seperti ini.
Oh, sebentar! Bukankah sekarang ini zaman modern? Pengusung pena millenium identik dengan layar listrik. Tapi memelihara layar listrik tidak seperti merebus Indomie. Jalan kongkritnya memeras keringat, membanting tulang. Itu sedang, itu sedang dilampah. Namun sampai setengah dekade hanya bertahan menghuni bilik kepinding, dan kepinding-kepinding itu tiap saat menggerogoti neokorteks, belum lagi cekikan-cekikan yang belum dilepas. Bukan satu-dua yang seperti ini, tapi diantara.
Anda adalah istri seorang presiden sebuah negeri dengan nama Republik Arab Mesir yang memiliki sejarah peradaban agung. Namamu harum semenjak Nobel “International Peace Prize” di raih tahun 1988 atas peran besar menggelindingkan spirit toleransi manusia di tanah air, liga arab dan dunia internasional sebagai konsekuensi usaha yang diusung lewat gerakan cinta buku.
Dunia liga arab menjadi budak pusaka motivatifmu yang kesohor “Al-Qira`ah Lil-Jami’” (Reading For All). Semuanya tunduk di bawah spanduk-spanduk yang berderet di jalanan. Dan sungai Nile, mengalir subur dengan “Maktabah Usrah”mu. Ya, atas nama “Pustaka Keluarga”, Anda telah membuka ladang jasa, kerja, bisnis, pahala dan terutama ilmu. Sebuah lahan empuk untuk menanam buah pena para penulis dahulu, kemarin, dan sekarang; pilosof, sastrawan, insan cendikia, pemikir, putera daerah, bangsa atau karya luar. Kini, berapa banyak kepala manusia yang sudah dituang-jejali buku-buku cetakan pustakamu? Berapa pahala yang di gondol? Sungguh mulia visi Anda, Ibu. Menjadikan generasi bangsa terbiasa bermain dengan buku-buku.
Buku-bukumu membuat betah. Pilihan macam serial pustakamu; sastra, pemikiran, seni, sosiologi, teknologi, dan turats (klasik) digandrungi massa dewasa. Ada bermacam panorama disana; sejarah, saint, karya inovatif, disiplin ilmu teoritik dan lainnya. Sementara untuk kanak-kanak, pustakamu menyediakan serial khusus. Jempol bagimu, Ibu. Ah, belum cukup kalau hanya jempol, mungkin di tambah angkat topi dan menunduk.
Tiap bulan, minggu bahkan hari, tak mau ketinggalan update-an pustakamu. Tinggal merogoh saku, tak terlalu menguras, tapi relatif. Rugi rasanya jika dalam seminggu telat membeli buku-buku itu. Dikarenakan buku-bukumu, sampai rela prioritas belanja dikorbankan.
Buku-bukumu yang serial turats, bisa dimanfaatkan untuk referensi makalah, rujukan kritis diskusi dan bahan curhat harian di blogspot. Dan serial lain, bisa dicicipi untuk memperluas planet magis benak. Karena nge-fan, lemari pustaka pribadi didominasi oleh buku-bukumu. Lemari ukuran 2x2m. belum cukup menampung.
Sempat terlintas, bagaimana jika tidak sampai bisa melanjutkan studi minimal sampai pasca sarjana di negerimu? Berapa banyak buku-buku menarik selanjutnya yang dimubazzirkan? Sebetulnya bisa disiasati dengan memesan siapapun yang masih studi di negerimu untuk mengirimkannya ke negeri balik. Tetap, menikmati pilihan buku-bukumu dengan tangan sendiri adalah kepuasan.
“Al-Qira`ah Lil-Hayat” (Reading For Live)
Ini dia, satu motto lagi yang sering dijumpai di terowongan Metro Anfaq tertulis dalam baliho tembok. Hingga pada tahun 2009, kalimat jitu itu ditambah satu ungkap lagi, “Mishr al-Salam” (Egypt is The Regard)
Membaca adalah tahap awal dan perangkat penting untuk menyelami intelektual. Sekumpulan larik kata penyumbang unsur aktif membentuk peradaban. Benar ungkap sekapur sirih dalam buku-bukumu, Ibu. Pendahulumu berwasiat pada putranya: “Wahai anakku, simpanlah hatimu di balik buku-bukumu! Cintailah buku-bukumu sebagaimana kau mencintai ibumu!”
Besar jasamu untuk negeri ini, Ibu. Sudah! terlalu panjang memuji. Kurang baik dan memang tak baik. Bila ibu tak rela disanjung-sanjung, ambillah segenggam pasir dan lemparkan ke mukaku! Mohon perkenankan, satu lagi rasa kagum untuk sampul belakang buku-buku Ibu. Senyum manis ramah potret ibu, kerap mata tak berhenti memandang tertegun. Dan satu takjub untuk rambut Ibu yang bersinar, apakah sama seperti terangnya lampu Thomas Alva Edison?